Author Archives: Takmir Masjid Ulil Albab

Nikmat yang Teragung

Masjid Ulil Albab

Nikmat yang Teragung

Allah Subhânahu wa Ta’âlâberfirman,

يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ

“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu, ‘Hendaknya kalian memperingatkan, bahwasanya tidak ada Ilâh (sembahan) yang berhak diibadahi kecuali Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada-Ku.’.” [An-Nahl: 2]

Ayat di atas berada dalam Surah An-Nahl yang dikenal juga dengan nama surah An-Ni’am (penyebutan nikmak-nikmat Allah). Siapa yang ingin merenungi dan mensyukuri nikmat-nikmat Allah, cermatilah surah yang agung ini. Nikmat yang paling pertama disebut dalam Surah An-Nahl adalah ayat di atas yang menjelaskan nikmat diutusnya para rasul dengan membawa tauhid. Namun, banyak manusia tidak mengetahui bahwa mentauhidkan Allah dalam ibadah adalah nikmat Allah yang paling besar untuk seorang hamba.

Sungguh dalam memurnikan ibadah kepada Allah terdapat kebebasan bagi hamba dari perbudakan kepada dirinya sendiri dan kepada syaithan. Dengan tauhid, seorang hamba terbebas dari ketergantungan dan mengharap kepada makhluk, terhindar dari rasa takut dan beramal karena manusia. Seorang yang bertauhid hanya bergantung kepada Allah, takut dan mengharap hanya kepada-Nya. Inilah hakikat kebahagian yang abadi dan kemuliaan yang sejati.

Sebagian dari Ulama Salaf bertutur, “Siapa yang menghendaki kebahagian hakiki, hendaknya dia menetapi tiang peribadatan.”

Kebahagian hidup dengan tauhid ini adalah suatu nikmat Allah yang banyak dilalaikan oleh manusia. Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengingatkan,

“Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku, yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub.Tiadalah kami (para Nabi) patut mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (kepada-Nya).” [Yûsuf: 38]

semoga kita semua di golongkan oleeh Allah sebagai orang yang selalu mensyukuri nikmat-Nya..amin..

Agar Berberkah Pada Segala Keadaan

Agar-Berberkah-Pada-Segala-Keadaan

 

Allah Subhânahû Wa Ta’âlâberfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” [Ar-Ra’d: 11]

Pada ayat di atas, Allah menerangkan bahwa Allah tidak mengubah suatu nikmat, kebaikan dan kesejahteraan suatu kaum hingga mereka sendiri yang mengubah keadaan mereka dengan kekafiran, kemaksiatan atau ketidak syukuran terhadap nikmat.

Ayat ini semakna dengan firman-Nya, “(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-Anfâl: 53], juga firman-Nya, “Dan musibah apa saja yang menimpa kalian maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (kesalahan-kesalahan kalian).” [Asy-Syûrâ: 30] [Tafsir Adhwâ` Al-Bayân]

Demikian pula sebaliknya, apabila penduduk negeri mengubah kemaksiatan pada diri-diri mereka dengan beralih kepada ketaatan, Allah akan mengubah kesengsaraan mereka menjadi kebaikan, kesejahteraan dan rahmat. [Tafsir As-Si’dy]

Renungi pula firman-Nya, “…hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Perubahan harus bermula dari diri sendiri, bukan bermula dengan mengeritik orang lain dan melupakan diri sendiri yang bergelimang dengan dosa dan pelanggaran.

Marilah kita melakukan reformasi bermula dari diri sendiri.

Harapkan perubahan dengan banyak menangisi dosa, memperbaiki kesalahan, meluruskan keimanan, dan memperindah amalan.

Jangan sekali-sekali mengharap perubahan dengan cara teriak-teriak di jalanan, menghalangi lalu lintas manusia, merugikan orang-orang yang tidak berdosa, dan memadamkan listrik, serta melayangkan jiwa dan materi.

Ayo Bangkit dari Kegagalan!

Dalam QS. Ar-Rahman )55) : 13 Allah SWT berfirman :

Arrohman

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Ayat yang disebutkan berkali-kali dalam surat Ar-Rahman ini menunjukkan bahwa manusia itu jarang bersyukur dan tak mengerti kasih sayang (rahmat) Allah. Padahal, manusia dibekali nikmat yang luar biasa, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan, akal, hati, dan pikiran. Namun, sebagian manusia mendustakannya. Mereka lebih suka berputus asa daripada berusaha, lebih suka tidur daripada berpikir, dan lebih suka bermalas-malasan daripada bekerja/belajar.

Continue reading